Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

An-Taradhin Prinsip Penting dalam Rumah Tangga

 

An-Taradhin Prinsip Penting dalam Rumah Tangga

Dr Hj Arikhah
Pengurus MUI Provinsi Jawa Tengah, Dosen FUHUM UIN Walisongo, Pengasuh Pesantren Darul Falah Besongo, Jaringan KUPI


    Semua orang yang menikah pastilah memimpikan, mencita-citakan keluarga yang dibinanya akan mencapai kehidupan rumah tangga berjalan baik, dipenuhi mawaddah warahmahsakinah, maslahah dan sarat dengan kebahagiaan sampai akhir hayatnya. Namun tidak semua cita-cita tercapai. Ada saja masalah yang menjadi penyebab perselisihan dan menyulut pertengkaran bahkan menimbulkan perceraian.

    Harus dipahami oleh kedua belah pihak dalam pernikahan (suami istri), bahkan orang-orang yang terkait dalam perjanjian suci pernikahan, seperti orang tua, mertua, saudara dan lain-lain di seputarnya bahwa pernikahan bukanlah sekedar transaksi seksual, yang menyatukan setidaknya dua manusia secara fisik, melainkan transaksi lahir-batin, dunia-akherat, yang menyatukan dua jiwa, dua keluarga dengan kecenderungan, latar belakang keluarga dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu pemenuhan kebutuhan fisik mesti sejalan dengan kebutuhan rohani dalam keluarga.

    Maka, ruang keluarga bukanlah ring tinju yang mempertanding dua kubu, dengan hasil akhir menang atau kalah. Keluarga adalah biduk yang mengantarkan semua penumpangnya ke suatu tempat tujuan yang diinginkan bersama. Sebagai sebuah biduk, maka berkeluarga musti dibangun oleh semangat untuk saling memahami, menyenangkan dan memberdayakan pasangan, bukan mencari-cari kesalahan, kelemahan dan saling menyakiti. Baik suami maupun istri harus saling melakukan hal-hal positif untuk membahagiakan pasangannya masing-masing secara haqiqi.

    Selain, mitsaqan ghaliidza (perjanjian agung nan suci), zawaj (pasangan berkesalingan) mu'asyarah bi al-ma'ruf (interaksi dan memperlakukan secara baik) musyawarah (rembug dan bersama), ada prinsip pernikahan yang harus ada dalam berkeluarga, yaitu ‘an taradhin (saling ridho, rela dan menerima). Prinsip 'an taradhin popular di kalangan fuqoha dalam diskursus babbuyu'  (jual beli, perniagaan).  Dalam Al Qur-an, surat An Nisaayat 29, kata 'an taradhin sering dipahami dan dijadikan prinsip dasar utama dalam transaksi jual beli. Prinsip 'an tradhin menawarkan keseimbangan antara nilai individu dan masyarakat (sosial) dan juga memacu seseorang untuk berkreasi dan beraktivitas dengan tidak sampai merugikan kepentingan orang lain.

    Dalam Tafsir Al Misbah, 'an taradhin diartikan sebagai kerelaanya itu sesuatu yang tersembunyi dalam lubuk hati, tetapi indicator dan tanda-tandanya dapat terlihat. Ijab Kabul sebagai bagian dari serah terima adalah salah satu bentuk penerimaan tersebut. Terkait dalam kehidupan berkeluarga, jika masing-masing anggota keluarga mempraktekkan prinsip 'antaradhin, kekurangan-kekurangan yang muncul dapat difahami dan diterima, saling menutup kekurangan dan mengambil kelebihan dari pihak pasangan, untuk kemaslahatan bersama dalam melaksanakan tugas penghambaan kepada Allah dan kekhalifahan di muka bumi. 

    Kemaslahatan keluarga harus berjalan seiring dengan kemaslahatan sesame dalam internal keluarga, sehingga kemaslahatan ini merebak kepada keluarga besar penghuni seluruh bumi. Dalam relasi sebagai sesame manusia, makhluk yang dlo'if rentan dengan segala kelemahan dan kekurangan, suami dan istri serta seluruh anggota keluarga bersikap saling menyadari kekurangannya dan keinginan besar untuk selalu diingatkan, dibetulkan agar selalu sesuai dengan jalan Tuhan (syariat Allah) dan memperlakukan pasangan dan anggota keluarga secara manusiawi. Keluarga mesti dijalani dengan cara memanusiakan semua pihak yang ada di dalamnya tanpa kecuali, diperlakukan sesuai dengan jati diri manusia, yaitu sebagai hamba Allah yang tidak diperhamba oleh apapun dan siapapun selain Allah, juga sebagai pemegang amanah khalifah fil ardl dengan mandate mewujudkan kemaslahatan pada makhluk Allah seluas-luasnya di muka bumi.

    Az Zuhaili dalam kitab Tafsir Munir, mempertegas bahwa yang dimaksud 'an taradhin (saling rela) dalam Alquran surat an Nisaayat 29 adalah kerelaan antara kedua belah pihak berdasarkan batasan aturan syariat. Tidak dibenarkan kesalingrelaan yang melanggar batasan syariat. Oleh karenanya tidak dibenarkan bahwa suami dan istri saling rela dalam perbuatan yang dilarang Allah.

    Misalnya terlibat prostitusi, meskipun suami rela istrinya menjadi PSK demi menghidupi keluarga, atau istri rela suami terlibat korupsi, penipuan  dan lain-lain perbuatan yang dilarang Allah dan melanggar syariat. Semua hal ini adalah contoh kerelaan yang dilarang dan tidak boleh dilakukan. Justru terhadap perilaku pasangan yang melanggar syariat, seseorang harus kritis dan membantu agar pasangan tidak terjerumus pada perilaku dosa, jika pasangan sudah terlanjur berdosa sesorang harus berusaha keras menariknya untuk bias keluar dari kubangan dosa tersebut agar kembali ke jalan yang benar selamanya. Wallahua'lam.

(Sumber : https://www.suaramerdeka.com/news/beranda-ulama/242311-an-taradhin-prinsip-penting-dalam-rumah-tangga?page=all )